Breaking News

You are browsing with label: Tampilkan postingan dengan label Kontroversi. Tampilkan semua postingan

KBRN, Jakarta: Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) mengaku sulit untuk mengontrol kampanye di media sosial pada masa tenang. Masa tenang berlangsung selama tiga hari mulai 6 April hingga 8 April.
Nah dimasa tenang itu, partai politik, calon anggota legislatif dan calon anggota DPD dilarang untuk berkampanye rapat umum baik di media cetak maupun elektronik, rapat terbatas, pemasangan alat peraga.
“Kampanye di media  sosial tidak boleh dalam bentuk apapun termasuk hasil survei. Yang menjadi masalah, Undang-Undang tidak mengatur soal kampanye di media sosial karena untuk mengontrol sangat susah. Di Media sosial kan banyak yang tidak jelas identitasnya,” kata Komisioner Bawaslu Nelson Simanjuntak, Jumat (4/4/2014).
Jumlah pelanggaran dalam kampanye mencapai ratusan kasus. Pelanggaran dibagi menjadi dua yaitu administrasi dan pelanggaran tindak pidana pemilu. Pelanggaran administrasi adalah pelanggaran tata cara dan mekanisme pemilu yang diatur di Undang-Undang.
Sementara pelanggaran tindak pidana pemilu adalah semua tindak pidana yang diatur dalam UU Nomor 8 Tahun 2012 tentang Pemilu. Tindak pidana pemilu akan ditangani oleh Polri setelah sebelumnya dilakukan pendalaman oleh Bawaslu. Contoh pelanggaran tindak pidana pemilu diantaranya adalah money politic atau politik uang dan kampanye di luar jadwal.
“Ada persoalan masalah materi hukum luas sehingga dalam penerapannya sulit,” ujarnya. Pendapat serupa juga diungkapkan oleh Anggota KPU Juri Ardiantoro. “Problemnya adalah Bawaslu juga sudah merasakan sulitnya mengontrol media sosial apalagi belum ada cara yang efektif,” tutur Juri. (Sgd/BCS)

http://rri.co.id/index.php/berita/96262/Masa-Tenang-Pemilu-Kampanye-Di-Media-#.U0J5rhxlfX8

Oleh: Adian Husaini

SEBENARNYA, masalah demokrasi bisa dibicarakan dengan lebih ilmiah. Istilah “demokrasi” tidak tepat didikotomikan dengan istilah “khilafah”. Tetapi, lebih tepat, jika “demokrasi” versus “teokrasi”. Sistem khilafah beda dengan keduanya. Sebagian unsur dalam sistem khilafah ada unsur demokrasi (kekuasaan di tangan rakyat) dan sebagian lain ada unsur teokrasi (kedaulatan hukum di tangan Tuhan). Membenturkan demokrasi dengan khilafah, menurut saya, tidak tepat.

Sistem demokrasi ada yang bisa dimanfaatkan untuk dakwah, Karena adanya kebebasan berpendapat. Maka, Hizbut Tahrir justru berkembang ke negara-negara yang menganut sistem demokrasi, seperti di Indonesia. Di AS, Inggris, dan sebagainya, HT lebih bebas bergerak dibanding dengan di Arab Saudi. Karena itu, demokrasi memang harus dinikmati, selama tidak bertentangan dengan Islam. Itulah yang dilakukan oleh berbagai gerakan Islam, dengan caranya masing-masing. Ada yang masuk sistem politik, ada yang di luar sistem politik,tetapi masuk sistem pendidikan, dan lain-lain.  Tapi, mereka tetap hidup dan menikmati sistem demokrasi. Saat HTI menjadi Ormas, itu juga sedang memanfaatkan sistem demokrasi, karena sistem keormasan di Indonesia memang “demokratis”.

Karena itu, menolak semua unsur dalam demokrasi juga tidak tepat. Karena demokrasi adalah istilah asing yang harus dikaji secara kritis. Para ulama kita sudah banyak melakukan kajian terhadap demokrasi, mereka beda-beda pendapat dalam soal menyikapinya. tapi, semuanya menolak aspek “kedaulatan hukum” diserahkan kepada rakyat, sebab kedaulatan hukum merupakan wilayah Tuhan. kajian yang cukup bagus dilakukan oleh Prof Hasbi ash-Shiddiqy dalam buku Ilmu Kenegaraan dalam Fiqih Islam.

Inilah yang kita sebut sebagai proses Islamisasi: menilai segala sesuatu istilah  “asing” dengan parameter Islam. Contoh kajian yang bagus dilakukan oleh Ibn Taymiyah dalam menilai istilah-istilah dalam sufi, yang asing dalam Islam, seperti “kasyaf”, “fana”, dan sebagainya. Al-Ghazali juga contoh yang baik saat menilai istilah dan faham “falsafah”. Ada yang diterimanya, tetapi juga ada yang ditolaknya.

Jadi, menurut saya, kenajisan istilah “demokrasi”  bukan “lidzatihi”, tetapi “lighairihi”, karena masih bisa “disamak”. Saat ini pun kita telah menggunakan berbagai istilah asing yang sudah diislamkan maknanya, seperti “agama”, “dosa”, “sorga”, “neraka”, “pahala”, dan lain-lain.

Masalah khilafah juga perlu didudukkan pada tempatnya. Khilafah adalah sistem politik Islam yang unik dan khas. Tentu, agama dan ideologi apa pun, memerlukan dukungan sistem politik untuk eksis atau berkembang. Tetapi, nasib dan eksistensi umat Islam tidak semata-mata bergantung pada khilafah. Kita dijajah Belanda selama ratusan tahun, Islam tetap eksis, dan bahkan, jarang sekali ditemukan kasus pemurtadan umat Islam. Dalam sejarah, khilafah juga pernah menjadi masalah bahkan sumber kerusakan umat, ketika sang khalifah zalim. Dalam sistem khilafah, penguasa/khalifah memiliki otoritas yang sangat besar. Sistem semacam ini memiliki keuntungan: cepat baik jika khalifahnya baik, dan cepat rusak jika khalifahnya rusak. Ini berbeda dengan sistem demokrasi yang membagi-bagi kekuasaan secara luas.

Jadi, ungkapan “masalah umat akan beres jika khilafah berdiri”, juga tidak selalu tepat. Yang lebih penting, menyiapkan orang-orang yang akan memimpin umat Islam. Itulah yang dilakukan oleh Rasulullah saw. Entah mengapa Rasulullah saw — setahu saya — tidak banyak (hampir tidak pernah?) mengajak umat Islam untuk mendirikan negara Islam. meskipun negara pasti suatu hal yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan umat Islam, sebab berbagai aspek hukum dan kehidupan umat terkait dengan negara.

Tapi, saya tidak ketemu hadits: “Mari kita dirikan negara, agar kita jaya!”  Tentu, bukan berarti negara tidak penting.

Terakhir, soal “cara mendirikan khilafah”. Saya sering terima SMS, bahwa khilafah adalah solusi persoalan umat. Beberapa kali acara, saya ditanya, mengapa saya tidak membicarakan khilafah sebagai solusi umat! Saya pernah sampaikan kepada pimpinan HTI, tahun 2010 lalu, tentang masalah ini.

Menurut saya, semangat mendirikan khilafah perlu dihargai, itu baik. Tetapi, perlu didudukkan pada tempatnya juga. Itu yang namanya adil. Jangan sampai, ada pemahaman, bahwa orang-orang yang rajin melafalkan kata khilafah dan rajin berdemo untuk menuntut khilafah merasa lebih baik daripada para dai kita yang berjuang di pelosok membentengi aqidah umat, meskipun mereka tidak pernah berdemo menuntut khilafah, atau bergabung dengan suatu kelompok yang menyatakan ingin mendirikan khilafah.

“Mendirikan khilafah” itu juga suatu diskusi tersendiri. Bagaimana caranya? AD Muhammadiyah menyatakan ingin mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya! Persis juga punya tujuan serupa. DDII juga sama. Mars MTQ ada ungkapan “Baldatun Thayyitabun wa Rabbun Ghafur”. Apa itu tidak identik dengan “khilafah”. AD/ART PKS juga ingin memenangkan Islam.

Walhasil, menurut saya, dimensi perjuangan Islam itu sangat luas. Semua kita yang ingin tegaknya Islam, perlu bekerjasama dan saling menghormati. Saya sebenarnya enggan menulis semacam ini, Karena saya sudah menyampaikan secara internal. tetapi, karena diskusi masalah semacam ini sudah terjadi berulang kali.

Masalah umat ini terlalu besar untuk hanya ditangani atau diatasi sendirian oleh PKS, HTI, NU, Muhammadiyah, INSISTS, dan lain-lain. Kewajiban diantara kita adalah melakukan taushiyah, bukan saling mencerca dan saling membenci. Saya merasa dan mengakui, kadang terlalu sulit untuk berjuang benar-benar ikhlas karena Allah. Bukan berjuang untuk kelompok, tapi untuk kemenangan Islam dan ikhlas karena Allah. Wallahu a’lam bish-shawab.

Diambil dari milis INSISTS dan dinaikkan atas izin penulis

http://www.islampos.com/khilafah-dan-demokrasi-104236/

Pihak Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang, Jawa Timur, mengakui bahwa dalam ospek yang diikuti mahasiswa baru (maba) telah terjadi kekerasan seksual. Hal itu terlihat dari beberapa foto yang beredar di media sosial dan pengakuan para saksi.

"Kalau dilihat dari foto-foto yang beredar di media sosial, dan pengakuan para saksi, memang ada kekerasan mengarah seksual saat ospek berlangsung. Tapi yang banyak tahu pihak jurusan, yang bersentuhan langsung dengan kegiatan itu," kata Wakil Rektor I Wayan Mundra ditemui wartawan seusai menemui para pedemo di depan pintu masuk ITN, Senin (9/12/2013).

Namun Wayan mengaku, pihaknya hingga kini masih belum melihat secara jelas semua foto yang beredar di media sosial. "Tapi, kita sudah menjatuhkan sanksi kepada puluhan mahasiswa yang jadi panitia ospek," katanya.

Sanksinya bermacam-macam, kata Wayan. Ada yang dikeluarkan, ada yang dihapus mata kuliah, atau harus mengulangi mata kuliah lagi. "Pihak jurusan yang lebih banyak tahu. Sekarang kami baru tahu lebih detail jenis kegiatannya," kilahnya.

Kegiatan seperti itu, katanya, ditangani langsung oleh pihak jurusan Planologi. Pihak jurusan yang bertanggung jawab. "Yang jelas, jika ada pemberian minum satu botol untuk 114 orang itu sangat tidak wajar," tegasnya.

Sebenarnya, ospek tersebut digelar setelah pasca-kehidupan kampus. "Tujuan utamanya ialah agar mahasiswa paham betul jurusan yang ditempuhnya. Tidak ada perpeloncoan dalam ospek. Kita tegas melarangnya," kata Wayan.

Pihak jurusan, ujar Wayan, sudah memberi izin soal lokasi ospek, yakni di Goa China, Sumbermajing Wetan, Kabupaten Malang, sementara rektorat yang mengikuti jurusan. "Tanda tangan izin lokasi ditandatangani oleh pihak jurusan dan dekan," ungkap Wayan.
sumber : http://www.tribunnews.com/regional/2013/12/09/wakil-rektor-itn-malang-akui-ada-kekerasan-seksual-saat-ospek

Surat terbuka untuk bapak KAPOLRI, ayahanda tercinta Jendral Sutarman.
Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu. Semoga ayahanda selalu dalam hidayah dan berkah Allah bersama keluarga dan keluarga besar POLRI...aamiin. Sejak ayahanda membolehkan muslimat polisi berjilbab, suka cita, ucapan Alhamdulillah, sujud syukur, pujian dan doa untuk ayahanda dipanjatkan. Lalu kenapa dicabut dan ditunda lagi ayahanda. Ayah, hidup kita tidak lama di dunia sebentar ini, jabatan yg Allah amanahkan untuk ayah akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak, keputusan ayah membolehkan jilbab adalah keputusan sangat bijak dan tepat. Dan berita gembira untuk ayahanda, bukan hanya sebagai Pelopor Jilbab yg akan dikenang sejarah walaupun ayah sudah wafat tetapi bernilai amal jariyah yg mengalir terus menerus sebanyak muslimat polisi mengenakannya. Allah berfirman, "Barang siapa memberi keputusan atau kebiasaan yg baik, lalu banyak yg mengikutinya maka sebanyak itu ganjaran mengalir Allah berikan kepadanya, tetapi sebaliknya barang siapa membuat keputusan atau kebiasaan buruk, lalu banyak yg mengikutinya maka sebanyak itu dosa yg ditimpakan kepadanya (QS An Nisa 85). Ayah, kalau memang belum dibuat aturan hukum bakunya, jangan diperintahkan untuk menanggalkan jilbab bg muslimat polisi yg sudah berjilbab, apalagi sampai memecat mereka, terlalu besar RESIKONYA DI AKHIRAT KELAK. Sayangilah muslimat POLRI ayah, mereka juga putri putri ayah. Buatlah sejarah yg indah mengesankan, ayah. Hidup ini sebentar ayah. Ayah, jangan ragu ragu, kami sangat mendukung dan mendoakan ayah agar ayah lulus menjaga AMANAH ALLAH, Negeri tercinta ini membutuhkan pemimpin yg sangat takut kepada Allah dan sangat sayang pada rakyatnya. Dari nanda muhammad arifin ilham, seorang anak bangsa yang mencintai ayahanda Sutarman. Mohon doa, dukungan dan sebarkan ini sahabatku tercinta. Allahumma ya Allah berilah hidayahMu untuk para pemimpin negeri yg kami cintai ini...aamiin. Foto da'wah bersama para Jendral di MABES POLRI.

sumber : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10152133842589739&set=a.435861909738.221420.56922759738&type=1

ENTAH kapan mulainya, namun di Indonesia, acara-acara teve, hampir tak pernah jelas—di tahun 2009, ada segerombolan anak-anak remaja bau kencur, pagi-pagi sekali sudah nongkrong di mall-mall yang ada di ibukota. Entah apa mereka mandi ataukah tidak. Entah pula apakah mereka melaksanakan shalat Shubuh ataupun tidak.

Tapi hey, apa yang mereka lakukan di mall pada jam-jam itu ketika anak-anak seusia mereka seharusnya belajar di kelas? Tapi, tampaknya itu pun bukan sesuatu yang penting. Mereka berkumpul di mall, atau di pusat keramaian, menghadiri perhelatan acara-acara musik pagi hari berbagai stasiun televisi swasta. Kemudian, tiba-tiba mereka terkenal dengan sebutan anak-anak ‘alay’.

Acara musik itu tidak hanya satu stasiun saja. Tapi juga hampir semua stasiun televisi yang ada saat ini. Mulai dari pagi buta, sampai menjelang dhuhur. Ini memang imbas dari sebuah acara yang ngetop, karena televisi mempunyai prinsip “Me Too Program.”

Acara-acara musik itu, konon, dibuat untuk segmentasi remaja. Benarkah begitu? Simak coba sebuah keluh-kesah seorang remaja berikut ini: “sebenernya gw nggak suka acara itu abis ditayangkan tiap hari tiap pagi ade gw selalu klik chanel yang isinya acara music. duch.. bikin bete, masa pagi2 acara tiap hari itu… kesannya tiap hari yang gw jalanin seakan2 sama aza tiap pagi di suguhin acara begituan, emak gw aza ampe protes…”

Dampak pada kalangan remaja dari acara-acara seperti ini, yaitu mulai ditemui remaja-remaja yang melakukan imitasi terhadap  budaya pop dan instan, mulai dari gaya rambut, model pakaian, aksesoris, sampai pola hidup dan cara berinteraksi dengan teman sebaya. Hal ini juga ditegaskan oleh pernyataan para remaja bahwa  mereka sangat menyukai budaya pop. Salah satu alasannya adalah keindahan gaya atau style para artis-artis yang tampil, peduli amat apa mereka bisa bernyanyi atau bermusik ataukah tidak.

Islam mengatur setiap aspek dalam kehidupan mulai dari hal-hal yang remeh hingga perkara yang  kompleks. Dari urusan buang air kecil sampai urusan mengatur negara. Dan setiap manusia yang mengaku beragama Islam, ia terikat sepenuhnya kepada seluruh hukum Islam tanpa terkecuali. Tidak dibenarkan baginya menerima dan mengadopsi satu hukum Islam sementara menolak untuk menerapkan hukum yang  lain. Oleh karena itu, dalam memandang permasalahan ini, kita sebagai muslim harus melihatnya dengan sudut pandang Islam—dan agaknya yang belum sampai kepada anak-anak muda Islam kita kebanyakan sekarang ini.

Jika mendengarkan musik  sampai melalaikan shalat, liriknya mengarah pada pemujaan terhadap lawan jenis dan mengandung kemusyrikan, maka aktivitas mendengarkan musik menjadi aktivitas yang  haram. Jadi masalah lain dalam kasus ini adalah jika si remaja juga mulai mengidolakan para penyanyinya hingga semua yang berkaitan dengan mereka diikuti, dari penampilan hingga gaya hidup mereka.

Pertanyaannya, apakah gaya hidup mereka sesuai dengan hukum Islam hingga layak untuk diikuti? Tentu saja jawabannya tidak. Para personel Girl Band misalnya, mereka memakai pakaian-pakaian minim yang memperlihatkan aurat mereka. Setali tiga uang dengan Girl Band, Boy Band pun sama saja. Rata-rata musik mereka menggambarkan gaya hidup remaja yang penuh hura-hura. Tidak layak sedikit pun gaya hidup seperti ini diikuti oleh  kaum muslim, khususnya remaja-remaja muslim.

Dan batas-batas pun diterabas. Acara-acara musik itu tak punya lagi rasa penghormatan terhadap ciptaan Allah SWT. Orang bodoh itu ada sebabnya. Namun, orang berwajah biasa (baca: kampungan dan pas-pasan) tentu karena anugerah dari Allah SWT. Jika bisa meminta, semua manusia yang lahir ke dunia ini diberikan rupa yang cantik dan ganteng secara absolut, diakui oleh semua kalangan. Itu yang tak bisa dipilah oleh para pemandu acara-acara musik itu.

Namun, seperti sebuah acara talk show malam hari yang juga berulang kali dicekal namun kemudian muncul lagi dengan nama lain dan nama yang sama, acara-acara musik ini akan muncul banyak-banyak pula di waktu-waktu mendatang. Jadi, “The Acara Musik Remaja Pagi-Pagi” masih mungkin menghias layar kaca kita. Sebaiknya, mulai dari sekarang, matikan saja atau cari saluran lain yang menyuguhkan berita informatif ketika anak-anak kita asyik menontonnya. [sa/islampos]

sumber : http://www.islampos.com/the-acara-musik-remaja-pagi-pagi-46890/

Pengadilan Sidi Gaber, Alexandria-Mesir, hari ini memutuskan vonis penjara 11 tahun atas 14 orang remaja putri yang tergabung dalam gerakan "7 Pagi" anti kudeta. 14 gadis berusia 14 hingga 18 tahun ini dikenakan tuduhan telah melakukan mobilisasi massa, aksi premanisme dan berafiliasi kepada organisasi terlarang.

Sementara itu Gerakan 7 Pagi dalam pernyataannya melalui laman resmi di jejaring sosial Facebook menyeru rakyat Mesir untuk menggelar "Intifadhah" melawan kudeta militer. Mereka menyatakan sikap arogansi rezim militer sudah melewati batas, melanggar hak-hak kebebasan berpendapat dan mencoreng martabat institusi penegak hukum Mesir karena bekerja untuk kepentingan kudeta.

Mereka juga mengancam otoritas berkuasa untuk kembali menggelar aksi damai yang lebih besar pada 12 Desember mendatang di seluruh wilayah Mesir.

*ajmmisr/Fb/Sinai
Red. Harun AR

sumber : http://www.sinaimesir.net/2013/11/pengadilan-mesir-menetapkan-11-tahun.html

PERSATUAN ulama dunia – di bawah kepemimpinan Syaikh Dr. Yusuf Qaradhawi – menolak keras adanya laporan terkait tindakan pemerintah Angola yang melarang umat Islam melaksanakan ajaran ibadah mereka dan rencana pemerintah Angola menghancurkan masjid-masjid kaum Muslimin.

Menanggapi hal itu, persatuan ulama dunia mengajak organisasi internasional dan regional untuk membela hak-hak minoritas umat Muslim yang ada di Angola.

Berikut pernyataan resmi Persatuan Ulama Dunia terkait masalah umat Islam di Angola yang ditandatangani langsung oleh Presidennya, Syaikh Dr. Yusuf Qaradhawi:

Segala Puji bagi Allah, Shalawat dan Salam kepada Rasulullah saw, dan keluarganya, serta seluruh pengikutnya.

Telah beredar kabar pada hari ini, 25 November 2013 bahwa pihak berwenang Angola memutuskan untuk melarang agama Islam di wilayahnya dan mencegah umat Islam untuk melaksanakan ritual-ritual keagamaan mereka. Dengan alasan bahwa pemerintah Angola tidak menerima adanya Islam garis Keras di wilayahnya serta Islam dianggap bertentangan dengan budaya Angola. Ditambah lagi pemerintah telah menghancurkan salah satu masjid pada tanggal 17 Oktober lalu di kota madya Viandazhango di Luanda, Ibukota Angola.

Dan para ulama internasional mengutuk keras keputusan ini, yang bertentangan dengan hak asasi manusia yang paling dasar untuk hidup bermartabat, kebebasan beragama, dan bertentangan dengan prinsip-prinsip toleransi serta hidup berdampingan secara damai, terutama di Afrika, yang lebih dari setengah populasi penduduknya adalah umat Islam.

Dengan ini Persatuan Ulama Dunia menyampaikan pernyataan sebagai berikut:

    Meminta kepada pemerintah Angola untuk mencabut kembali keputusannya yang tidak adil ini, dan bersikap adil terhadap minoritas umat Islam, dengan tidak mencampuradukan umat Islam dengan kelompok radikal dan teroris.
    Menyerukan kepada PBB, bidang Hak Asasi Manusia, agar segera melakukan tindakan kongkrit dalam menyelesaikan masalah ini.
    Mengajak kepada persatuan Organisasio-organisasi Islam Dunia, dan Organisasi Islam Afrika dll. untuk sama-sama melakukan tindakan sebagai bentuk solidaritas demi terciptanya suasana damai kembali di Angola.
    Mengajak kepada Pemimpin Negara-Negara di Afrika, dan di Umat Islam di seluruh dunia, agar membantu saudara-saudara mereka yang tertindas karena minoritas, karena seorang mukmin untuk mukmin yang lain seperti sebuah bangunan yang saling mengokohkan.
    Persatuan ulama menegaskan rasa solidaritas dan ukhuwah kepada minoritas umat Islam di Angola, mendo’akan mereka untuk tetap sabar dan dapat mengambil hikmah, dan tidak bersikap keras ataupun radikal.
    Persatuan ulama menolak tindakan radikal dan berlebih-lebihan atas nama Islam, dan mengajak umat Islam untuk melakukan apa yang Allah serukan dalam surat Al-Baqarah “Hai Orang-orang yang beriman masuklah kamu dalam agama Islam secara kaaffah, dan janganlah kalian ikuti langkah-langkah syeitan, sesungguhnya dia adalah musuhmu yang nyata”.

Tertanda
Dr. Yusuf Qaradhawi
Ketua umum Persatuan Ulama Dunia.[Dedih Mulyadi/islampos]

sumber : http://www.islampos.com/persatuan-ulama-dunia-tolak-larangan-islam-di-angola-88011/

Lagi-lagi pemerintahan kudeta Mesir kehilangan akal sehatnya dengan menarik dubesnya dari Turki. Mesir mengalami kegagalan dan kebuntuan diplomatik di tingkat Internasional akibat kudeta yang dilakukan oleh jenderal As-Sisi dengan kelompok yang sehawa nafsu dengannya.

Alasan pemutusan diplomatik sepihak ini hanya dikarenakan pemerintahan kudeta sangat terganggu dengan upaya Turki mengembalikan kedudukan presiden Mursi, dan pembelaan Turki yang sangat besar terhadap rakyat Mesir yang ditindas oleh junta militer. 

Mayoritas rakyat Mesir sangat menyayangkan sikap pemerintahan kudeta terhadap Turki, bahkan pemutusan hubungan diplomatik sampai ke level terendah ini sangat merugikan Mesir. Sejak revolusi 25 januari Turki terus meningkatkan investasinya di Mesir menjadi 3.8 milyar dollar, dan hal ini tentunya meningkatkan lapangan kerja bagi rakyat Mesir sendiri.

Menanggapi hal ini, Presiden Turki Abdullah Gul mengatakan " Kalian memutuskan hubungan dengan Amerika dan Israel jauh lebih baik daripada memutuskan hubungan dengan Turki". PM Turki juga menanggapi dengan santai dengan melambangkan rab'ah dan mengatakan "kami tidak pernah memusuhi rakyat Mesir, namun memusuhi perampas kekuasaan yang sah". 

Selanjutnya Erdogan juga mengambil langkah yang sama seperti yang dilakukan pemerintahan kudeta Mesir dengan memberikan tenggat waktu hingga tanggal 29/11/2013 kepada Duta Besar Mesir.

Turki dibawah kepemimipnan Erdogan selama 10 tahun terakhir, membuat negara itu mengalami kemajuan disegala bidang, ekonomi, militer, teknologi dan lain-lain. Bahkan Turki adalah negara dengan kekuatan militernya nomor 5 di Dunia, Kekuatan militernya juga nomor 2 di Banua Eropa, yang mengalahkan kekuatan militer Prancis, Negara dengan nomor 7 ekonominya termaju dan terbaik du Dunia, Negara yang memberi pinjaman ke Dana Moneter Internasional karena kelebihan kas Negara dan lain-lain.

Reportase dari Sahabat islamedia Cairo, Mesir.
Malim Sempurna
Mahasiswa Pascasarjana AOU-Cairo

sumber : http://www.islamedia.web.id/2013/11/kehabisan-akal-mesir-pulangkan-dubes_25.html