Breaking News

You are browsing with label: Tampilkan postingan dengan label Oase Iman. Tampilkan semua postingan

"Bu, kenapa sih kok bapak kerjanya di pasar, temen-temen Aa bapak nya kerja nya dikantor, katanya enak bu, kalo dikantor itu bersih, ada komputer terus ada buku-buku, ntar kalau Aa maen ke kantor bapak, Aa bisa maen komputer..." Itu pertanyaan polos dari keponakan saya yang baru berumur 5 tahun dan masih duduk di bangku TK.

Mungkin karena faktor teman- temannya di sekolah yang sering bercerita tentang ayah-ayah mereka yang kebanyakan memang pegawai kantoran dan bercerita tentang segala "keistimewaan" bekerja di kantor sehingga muncul pertanyaan tersebut. Tentu saja sang ibu keponakan saya itu berusaha dengan "bahasa yang dapat dimengerti anak-anak" menjelaskan dengan lugas tentang apa itu pekerjaan.

Yang pasti dari sejak kecil, anak-anak memang harus ditanamkan bahwa pekerjaan itu cakupannya luas dan amat luas seluas samudera kalau memang kita bisa mencari, menggali dan mewujudkan walaupun dengan perjuangan yang amat panjang.. apapun bentuk pekerjaan itu, asalkan halal. Dan tentu saja bagi orang-orang yang beruntung mempunyai pendidikan yang tinggi dan pekerjaan yang bagus bukan berarti harus berbesar kepala seolah tidak membutuhkan lagi orang - orang disekelilingnya, terutama orang - orang yang karena pendidikannya terbatas dan hanya berkesempatan untuk menjadi pedagang asongan, pembantu rumah tangga dan lain sebagainya.

Karena semua pekerjaan adalah mata rantai yang tak terputus seperti simbiosis mutualisma yang saling menguntungkan satu sama lain tanpa harus korupsi, tanpa harus sikut sana sikut sini. Dan pekerjaan itu bukan terbatas hanya dikantor saja. Kalau semua orang bekerja dikantor, kita dapat bayangkan betapa sulit ruang gerak kita. Bukan begitu?

Bayangkanlah bila para penumpang bis, angkot dan sebagainya yang akan kelimpungan tujuh keliling bila para supir "ngambek" tidak mau menyupir.

Bayangkanlah bila orang-orang di dalam mobil yang kehausan tapi dia tidak menemukan satupun pedagang asongan yang menjual minuman karena semua pedagang asongan "ngambek" untuk berdagang. Dan saya pernah merasakan tersiksanya kehausan setelah berpeluh keringat mengejar bis sementara pedagang asongan tak kunjung muncul. Ketika itu saya hanya bisa membayangkan betapa indahnya meminum seteguk air yang ditawarkan pedagang asongan andai saja mereka muncul dihadapan saya saat itu.

Bayangkanlah bila murid2 ketinggalan banyak pelajaran karena guru mereka "bosan" mengajar.

Bayangkanlah bila para kontraktor perencana gedung yang "hilang" tender karena buruh2 bangunan "enggan" bekerja.

Bayangkanlah bila para karyawan digedung-gedung perkantoran yang kelaparan saat makan siang.. karena pedagang-pedagang makanan disekitar kantor mereka "mogok" jualan.

Bayangkanlah bila ibu-ibu dirumah yang harus "berpeluh keringat " mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang tiada habis-habisnya karena para khadimat mereka "pulang kampung" dan tidak mau lagi bekerja.

Bayangkanlah bila kantor-kantor, mall-mall ataupun perusahaan-perusahaan yang gedungnya kotor tak terurus karena para petugas cleaning service nya "tidak mau" lagi bekerja.

Ternyata...kita butuh mereka...para supir, pedagang asongan, pedagang makanan, para pembantu rumah tangga dan lain sebagainya. Mereka amat berjasa bagi kita walaupun kadang keberadaan mereka tidak kita hargai.

Keramahan dan penghargaan terhadap orang - orang kecil dan hal - hal kecil amat sangat dibutuhkan, apapun status dan pekerjaan orang tersebut.

Seperti raut muka ceria anak anak ditempat saya mengajar tiap sabtu dan Minggu yang dengan semangatnya menceritakan pekerjaan ayah mereka yang hanya seorang pemulung dimata orang lain. Tetapi dimata mereka ayah mereka lah pahlawan dikeluarga, yang dengan tegarnya menghadapi tantangan hidup, walaupun hanya bisa memberi tempat tinggal sebuah petakan ukuran 3x4 m dengan harga sewa Rp. 70.000 ribu perbulan.

Dan tidak ada salahnya kita bergaul dengan mereka, untuk mengingatkan agar selalu bersyukur atas nikmat yang telah Allah berikan.

Dan anak-anak yang beruntung karena keluarga mereka berkecukupan pun harus tahu dan diajarkan bahwa disekitar mereka masih banyak anak-anak yang kurang beruntung. Indahnya bila hidup ini saling mengasihi dan menghargai.

Satu hal lagi dari sekian banyak PR yang harus kita bayangkan, yaitu...

Bayangkanlah bila para istri "berhenti total" untuk mengurus anak-anak, suami dan rumah tangga nya karena terlalu jenuh dengan rutinitas seputar dapur, sumur dan kasur. Mengenai hal satu ini ada satu pertanyaan dari salah seorang teman saya, "Lalu kami ini para lelaki harus bagaimana? Membiarkan para istri bekerja dikantor dan anak-anak serta keluarga terbengkalai?"

Ups...tentu saja tidak. At least memberi ruang gerak bagi para istri untuk maju bersama. Intinya maju bersama dalam artian dalam rumah tangga. Kalau suami maju dan berkembang, dia juga harus berfikir dan bertindak untuk membuat istrinya maju juga. Sehingga proses pembelajaran di rumah tangga terus menerus berlangsung, long life learning, sehingga istri bisa mengaktualisasikan diri.

Sehingga konteks rumah tangga itu bukan berarti "memperbantukan" istri ibarat pembantu yang harus stay tune 24 jam sehari dengan tanpa adanya proses pembelajaran buat si istri. Menjadi ibu rumah tangga secara full pun tidak masalah apalagi bila dibarengi dengan kegiatan - kegiatan yang manfaat di sekitar lingkungannya. Menjadi ibu bekerja pun juga tidak masalah asalkan balance antara keluarga dan pekerjaan. Karena yang terpenting dalam keluarga adalah kualitas komunikasi yang intens bukan kuantitasnya, dan saling berbagi tugas dengan suami dalam mengurus rumah tangga.

Dan bagi para ibu, tentu saja bekerja bukan hanya dikantor saja, nanti kalau semua ibu - ibu bekerja dikantor, lalu siapa nanti yang akan sabar mengajar anak - anak TK, SD, SMP, SMU sampaiUniversitas? Siapa yang akan memeriksa ibu - ibu hamil jika saja tidak ada dokter kandungan perempuan? Siapa yang akan berjualan masakan untuk disantap para karyawan?Dan tentu saja masih banyak lagi profesi - profesi lainnya bagi para ibu yang bekerja.

Saya masih ingat dulu saat SD, dibuku Teks Pelajaran Bahasa Indonesia sering terdapat contoh - contoh kalimat seperti :

"Ibu pergi ke pasar, bapak pergi kekantor..", kalau boleh merevisi nya sih... rasa-rasanya tidak ada salahnya kalau konteks kalimat itu ditambahkan lagi menjadi :

"Ibu pergi mengajar, bapak pergi kekantor"

Atau konteks itu bisa berubah total secara situasional dan kondisional..:

"Pada hari Minggu ... ayah pergi ke pasar, ibu istirahat di rumah..."

Asik kan? Bila saling berbagi tugas apalagi dimulai di Ramadhan yang penuh berkah ini...

Bayangkan dan wujudkan...
Bekasi, Ramadhan penuh cinta 1424 H
dini@mipp.ntt.net.id

sumber : eramuslim

Assalamualaikum Wr Wb

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Hari ini saya sedang mules diare. Namun karenanya alhamdulillah 'ala kulli hal, saya jadi istirahat dan banyak waktu untuk mengikuti berita-berita yang terjadi minggu ini.

Astaghfirullah, kaget saya mengikutinya. Anganpun melayang ke Hamburg, Jerman dulu sekitar tahun 2000-an. Bang Ucok Pemain Teater senior berkelakar dikarenakan di tengah Kota Hamburg ada yang bagi-bagi kondom secara gratis kepada anak-anak muda setempat.

"Wuiih... tiap kali liat cewe-cewe sini, pikiran ngeres mlulu, gara-gara ada yang bagi-bagi kondom...bebas banget ya disini" selorohnya. "Ah Abang mah, kagak usah pake liat ada yang bagi-bagi kondom juga udah ngeres, emang omes (otak mesum) pada dasarnya hehe" timpal saya.

Memang tidak pernah terpikir oleh saya itu bakal terjadi di Indonesia, di negara kita. Berita kemarin yang sangat menghebohkan dalam rangka kampanye Hari Anti-AIDS sedunia dengan cara membagi-bagikan kondom kepada anak-anak muda. Karena masuk ke kampus-kampus lengkap dengan "bus kondom" alias bus merah membara yang dicetak foto artis berpose sensual.

Apalagi menurut kicauan yang ada di twitter salahsatu yang membagikannya sambil berbicara manja, "Jangan lupa pake yaa, sama pacar-pacar kamu". Wah pesennya sangat jelas, "melegalkan seks bebas" apapun niat awalnya apabila dengan cara seperti itu mestilah nilai itu yang didapat.

Wahai Ulil amri, sedih sekali saya mendengar hal tersebut. Benarkah para pengambil keputusan di negeri ini sudah sangat permisif terhadap hal ini. Benarkah mereka seakan-akan memperkenankan anak-anaknya dibawah umur atau diluar pernikahan untuk melakukan seks bebas? Tidak kah ada cara lain? Inikah cerminan akhlak kita?

Sedangkan di satu sisi berita tentang polwan berhijab semakin ramai. Ya, saya juga menjadi salahsatu nara sumber di koran Republika untuk diminta pendapat mengenai ditundanya kebijakan hijab untuk polwan. Lalu saya menanggapi dengan justru kepolisian mendapat kesempatan untuk menunjukkan bahwa orang-orang dibalik senjata itu mempunyai nilai-nilai spiritual yang kuat, yang membuat rakyat merasa percaya lebih jauh lagi merasa yakin bahwa mereka akan mengayomi sekaligus melindungi masyarakat. ayo jangan buat masyarakat ragu, tidak percaya bahkan hilang keyakinan terhadap institusi POLRI.

Kalo alasannya mengenai aturan teknis silahkan digodok tanpa harus melepaskan hijab yang telah digunakan. Kan sudah banyak contoh bahkan di London Inggris saja sudah diperbolehkan polwan berhijab. Kemudian ada pernyataan yang mengagetkan dari salahsatu pejabat tingginya. "Berjilbab memang ibadah, tapi bekerja sebagai POLRI juga ibadah, sudah bekerja saja kan sama". Weleh-weleh sambil tepok jidat, tambah mules saya dengernya.

Sekali lagu wahai Ulil amri, apa yang membuat pengetahuan agamamu minim sekali. Bahkan untuk masalah ibadah wajib, fardu 'ain saja tidak bisa membedakan. tidakkah mereka paham bahwa dalam konteks seks bebas Al Qur'an menyatakan "Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk." surah Al israa (17:32)

Lalu untuk mencegah agar orang-orang tidak melakukan zina pun, tercantum dalam surah An Nur ayat 2 : "Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman."

Lalu mengenai hijab, itu wajib bagi muslimah. tidak membedakan apakah dia POLRI, TNI, Menteri, Presiden, ibu rumah tangga, atau apapun profesinya selamanya dia muslimah maka dia akan terikat surah al ahzab ayat 59 ; "Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu'min: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Kembali dalam mules diare ini saya merenung, jangan-jangan negara ini tidak mempunyai Ulil Amri. Yang ada hanya pemimpin yang tidak bertanggung jawab pada Allah SWT, tetapi bertanggung jawab pada aturan-aturan yang mereka buat sendiri. Dan tidak menunggu terlalu lama tampak jelaslah kepribadian kita, akhlaq bangsa kita. waa tambah mules rasanya perut ini.

Ya Allah, Ya Rabb saya masih sayang pada pemimpin-pemimpin negeri ini. Saya juga sayang sama masyarkatnya Ya Rabb, negeri muslim terbesar di dunia, negeri Indonesia yang saya cintai ini. negeri yang saya berharap akan muncul penegak-penegak agamaMU.

Teringat janjiMU Ya Rabb, "Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." surah Al A'raf ( 7:96)

Ya Allah, salehkanlah pemimpin-pemimpin kami, sholehkanlah masyarakatnya, sholehkanlah kami dan keluarga kami dan limpahkan berkah pada negeri kami..aamiin

Tidaklah lebih baik dari yang berbicara ataupun yang mendengarkan, karena yang lebih baik di sisi ALLAH adalah yang mengamalkannya.

Wassalamu’alaikum Wr Wb
Redaktur : Heri Ruslan

sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/celoteh-kang-erick/13/12/03/mx89l8-bus-kondom-hijab-polwan-dan-akhlak-bangsa

Pernahkah sahabat semua memiliki keinginan? pasti pernah dan bisa dibilang sering punya keinginan. Tetapi seberapa sering keinginan terwujud dan Alloh kabulkan?...Tidak semua keinginan kita akan dikabulkan saat itu juga, bisa jadi ditunda karena Alloh tahu kita belum siap jika dikabulkan saat itu juga. Mungkin iman kita belum siap, kesabaran kita belum siap, atau yang lain. terkadang malah sebaliknya Alloh memberikan ujian terlebih dahulu sebelum mengabulkan keinginan kita. Tidak salah jika kita memiliki prinsip "Ini Yang Terbaik Bagi Saya". Apapun yang terjadi baik senang ataupun susah itulah yang terbaik karena semua ada hikmahnya.

D Jepang tingkat stress dan bunuh diri tinggi karena mereka tidak mau menerima apa yang terjadi pada dirinya, sehingga menurut kepercayaan mereka bunuh diri akan menyelesaikan masalah. Di Indonesia hal ini juga banyak terjadi di beberapa wilayah karena tingkat keimanan dan keyakinan masih minim sehingga jalan pintas yang ditempuh. Para artis dan pejabat tinggi banyak juga yang terjerumus dalam kehinaan bukan karena keinginan mereka tidak terpenuhi tetapi kerena sifat tamak dan duniawi yang hanya dipikirkan sehingga ketenagan tidak ada pada dirinya

Intinya marilah kita semua mensyukuri semua yang Alloh berikan kepada kita semua agar hidup menjadi lebih tenang dan berkah. Apapun yang terjadi kalau itu baik dimata Alloh maka jalanilah (---Semoga Manfaat---)

Kadang muncul di benak kita… Kenapa kita sakit? Kenapa kita kecelakaan? Kenapa ban kita kempes? Kenapa harus kita? Kenapa bukan orang lain?

Sahabatku, tidaklah setiap kemalangan dihadirkan untuk kita, kecuali Allah hendak menghapus dosa kita, kalo kita ridho.

“Sungguh ketika Allah mencintai suatu kaum, Dia beri musibah, barang siapa ridho (terhadap musibah itu), maka Dia ridho, barang siapa marah, Dia lebih marah” (HR Ibnu Majjah)

Kita adalah kholifatulloh fil ardh, wakilNya di dunia, wakilNya dalam menyalurkan rizki titipanNya, wakilNya menyampaikan hidayahNya, wakilNya menebar Hikmah, dan sederet panjang tugas kita sebagai wakil Tuhan di bumi.

Maka biarkan ban kita kempes, karena ada doa tukang tambal ban yang dikabulkanNya, dan kita bertugas jadi penyalur rizki Maka qonaah sajalah menerima kecelakaan, karena montir dan teknisi di bengkel juga harus memberi makan anak istrinya.

Dan bersabarlah atas sakitmu, karena para peramu kimia, penjual obat dan apoteker atau ahli herbal di kliniknya juga harus gajian. Kenapa harus kita? Karena kita yang diberi kesempatan untuk meraih keberkahanNya lewat harta, tenaga, kesabaran, keikhlasan kita menjalankan tugasNya di bumi, yang kelak telah disediakan surga atas nama kita, Bukankah doa kita terkabul dan orang dihadapkan kepada kita?.

Agar kita bisa mendapatkan rizki, agar orang di sekitar kita juga mendapatkan haknya, bukankah usaha kita juga mendorong orang lain datang kepada kita? Kenapa harus mereka? Kenapa mereka harus berurusan sama kita? Maka berharap sajalah pada Allah, karena berharap pada manusia banyak kecewa… Satu keyakinan yang harus ada, Ketika sesuatu terjadi pada kita…. “Karena Allah mengabulkan doa mereka…” -~{Salaam wa Rohmah

— Doddy Al Jambary

sumber : http://www.coffeisme.com/2013/11/18/relakan-ban-kita-kempes-karena-ada-doa-tukang-tambal-ban-yang-di-kabulkannya/


Beberapa hari lalu sy mampir di sebuah angkringan sepulang kerja untuk sekedar menikmati menu yang ada disana. Segelas Jeruk anget ditambah 2 bungkus nasi kucing 2 gorengan dan 3 cemilan, lumayan bisa buat isi perut yang lapar walaupun tidak sekenyang jika makan di warung makan. Yang menarik adalah total harga menu tadi hanya Rp. 6.000,-. Kalau dirinci adalah sbb : 1 gelas Jeruk Anget=Rp. 1500, 2 Nasi Kucing : Rp. 2000, 2 gorengan : Rp. 1000, 3 Cemilan : Rp. 1500. Kalau menurut sy itu harga yang masih tergolong murah di masa-masa sekarang ini. Kalau kita melihat orang-orang yang melakukan korupsi sampai dengan angka trilyunan (sy sendiri belum pernah lihat uangnya seberapa banyak, apalagi kalau uang nominalnya 2 ribuan.hehhehehhh) masih saja merasa kurang. Berapapun uang yang dimiliki kalau yang bersangkutan tidak bersyukur maka tidak akan cukup, akan tetapi jika semua disyukuri walau sedikit akan terasa cukup. bagaimana dengan anda, sudahkah anda bersyukur dengan apa yang dimiliki????


“Mbak, mau ke mana?” tanya Nisa kepada kakaknya Nada.

“Mau ke warung Bu Arip beli garem” jawab Nada.

“Koq nggak pake kaos kaki sih?” taya Nisa lagi.

“Kan rumah Bu Arip deket,” jawab Nada

“Terus kalau deket auratnya keliatan juga nggak papa yah?” ucap Nisa retoris.

Pernah juga ada seorang akhwat yang baru selesai berwudhu dan belum menggunakan kaos kaki karena kakinya masih basah. Kebetulan ketika ia hendak masuk masjid, ia harus melewati kawasan ikhwan. Kemudia ada seorang ikhwan yang nyeletuk: “Ukhti, kaos kakinya mana?”

Jleb.. Pernah ngalamin hal kayak gini? Lupa –atau sengaja- tidak memakai kaos kaki ketika ingin berpergian atau di depan orang yang bukan mahram.

Ada cerita lagi, suatu hari saya diajak ibu belanja sayur di rumah temannya. Kebanyakan penjual sayur di daerah saya tidak ada yang berpakaian rapi, hanya menggunakan daster atau baju-baju yang biasa dipakai di dalam rumah. Pikir saya, teman ibu yang penjual sayur ini tidak jauh berbeda dengan penjual sayur lainnya. Ternyata teman ibu adalah seorang ummahat bercadar. Baru kali ini saya menemukan seorang penjual sayur bercadar di daerah saya. Tapi ada satu hal yang mengusik pikiran saya. Bukan karena cadar yang beliau kenakan. Ketika saya melihat ke bawah ternyata punggung kaki beliau terbuka, tidak tertutupi apapun baik itu kaos kaki atau lainnya.

“Pakai cadar tapi kok nggak pakai kaos kaki sih Bu,” tanya saya kepada ibu dalam perjalanan pulang.

“Kan, itu di rumah (kebetulan warungnya jadi satu dengan rumah). Kalau keluar beliau pake kaos kaki kok,” jawab Ibu.

Masalah kaos kaki memang terdengar sepele. Tapi ini cukup untuk merepresentasikan pemahaman seorang Muslimah akan agamanya. Masalah sepele ini bisa memperlihatkan komitmen dan kekuatan ‘azzam seorang Muslimah dalam menjaga ‘izzah atau kehormatannya. Masih sering kita jumpai saudari-saudari kita yang berpakaian serba tertutup dari ujung kepala hingga ujung kaki ketika hendak bepergian, tapi ketika menyapu di halaman depan rumah kaki terbuka bebas. Atau ketika pergi ke warung, kakinya terlihat. Emang kaki juga bagian dari aurat ya?

Oke mari kita kaji dalil-dalil yang menjelaskan tentang batasan aurat wanita. Dalam Al Quran surat An Nuur ayat 31, Allah memerintahkan hendaknya para wanita tidak menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya dan menutupkan kain kerudung ke dadanya. Para ulama berbeda pendapat dalam menafsirkan kalimat إِلا مَا ظَهَرَ مِنْهَا atau kecuali yang biasa nampak daripadanya. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berpendapat yang dimaksud dengan kecuali yang biasa nampak daripadanya adalahwajah, cincin dan kedua telapak tangan. Dalam riwayat lain yang berasal dari Anas radhiyallahu ‘anhu disebutkan bahwa maksud kecuali yang biasa nampak daripadanya adalah telapak tangan dan cincin.

Karena perbedaan tafsir mengenai kecuali yang biasa nampak daripadanya maka para ahli fiqih juga berbeda pendapat dalam menentukan batas aurat wanita. Ada yang mengatakan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat. Ada juga yang mengatakan seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Imam asy-Syafi’i, Imam Abu Hanifah, dan Imam Malik dalam salah satu riwayatnya mengatakan bahwa seluruh tubuh wanita adalah aurat kecuali wajah dan telapak tangan. Jumhur ulama beranggapan bahwa kaki termasuk aurat.

“Barangsiapa yang memanjangkan kainnya karena sombong, maka Allah tidak akan melihatnya.” Ummu Salamah bertanya : ‘Wahai Rasulullah, apa yang harus dilakukan oleh para wanita dengan ujung pakaian mereka?’ Beliau menjawab : ‘Kalian boleh memanjangkannya sejengkal.’ Ummu Salamah bertanya lagi : ‘Jika begitu, maka kaki mereka akan terbuka!” Beliau menjawab, “Kalian boleh menambahkan satu hasta dan jangan lebih.” (HR. At-Tirmidzi dan An-Nasai)

Pada hadits di atas disebutkan bahwa kedua kaki perempuan adalah aurat. Oleh karena itu ketika Rasulullah bersabda: “Panjangkanlah satu jengkal.” Ummu Salamah berkata: “Jika demikian kaki kami akan tersingkap.” Perkataan Ummu Salamah ini menunjukkan bahwa kaki perempuan adalah aurat yang tidak boleh terlihat. Maka dari itu Rasulullah memerintahkan untuk memanjangkan pakaian mereka sehasta. Allah subhanahu wa ta’ala juga menjelaskan hal ini dalam AL Quran surat an Nuur ayat 31 :

“Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan.”

Al-Baihaqi mengatakan bahwa di dalam hadits ini terdapat dalil bahwa kaum wanita wajib menutup kedua punggung telapak kakinya. Asy-Syaukani juga juga berpendapat sama. Syeikh Utsaimin, Syeikh Musthofa al-‘Adawiy, Syeikh Albani dan jumhur ulama lainnya bersepakat bahwa kaki adalah aurat. Gimana, sudah dapet jawaban kan kaki itu aurat atau bukan?

Nah, untuk masalah kaos kaki sendiri sebenarnya bukan kewajiban. Kalau misalkan ada pakaian lain selain kaos kaki yang bisa menutupi aurat dan yakin aurat itu tidak akan tersingkap, nggak masalah nggak pakai kaos kaki. Mungkin kita berpikir ‘Ah cuma kaki doang, nggak bakal jadi fitnah’. Eits….jangan salah, setan akan terus mencari celah untuk mencari teman yang bisa menemaninya bermaksiat. Dan tau nggak sih, ternyata kaki juga bisa membuat seorang laki-laki jatuh hati kepada wanita!

Buat yang memilih kaos kaki untuk menutupi kakinya, pilihlah kaos kaki yang tidak tipis seperti stocking. Rata-rata stocking berbahan tipis. Apalagi stocking yang warnanya sama dengan warna kulit, aurat kita akan tetap terlihat. Kalaupun ingin menggunakan stocking, sebaiknya di dobel dengan kaos kaki berbahan lain. Supaya lebih aman, gunakan kaos kaki yang panjangnya minimal sebetis. Kalau kita menggunakan kaos kaki semata kaki, tak jarang aurat kita terlihat ketika berjalan atau menaiki tangga.

Saudariku, kalau kita merasa aman dengan terbukanya bagian kecil dari aurat kita, bukan tidak mungkin kita akan merasa aman membuka bagian lainnya. Wal ‘iyadzu billah. Bagaimana saudariku masih pengen kah ke warung nggak pakai kaos kaki? Atau masih ada niatan nyapu teras kakinya terbuka? Yuuuk kita sama-sama menjaga diri kita, menutupi aurat kita, dan menjaga ‘izzah kita.

Oleh : Rahma Riandini, Cilegon
Telah di publikasikan oleh fimadani.com

sumber : http://www.islamedia.web.id/2013/09/ukhti-kaos-kakinya-mana.html?utm_source=dlvr.it&utm_medium=facebook


Oleh: Rosadi Alibasa, Direktur Shakira Group Company (Bandung, Purwakarta, Karawang, Bekasi)

BAPAK yang sudah renta itu mondar-mandir gelisah di tengah rumah. Anak pertamanya sudah enam bulan setelah mengecap kelulusan di fakultas pertanian di salah satu universitas negeri, belum kunjung jua mendapatkan kerja. Kesehatan bapak tua itu sudah tertelan usia dan hanya anak pertama ini yang bisa menjadi tumpuan membantu ketiga adiknya bersekolah.

Keringat yang diperasnya untuk biaya kuliah dengan berjualan sayur di pasar dirasakan tidak membuahkan apa-apa. Anak kesayangannya hanya menjadi pengangguran sukarela. Pengangguran atas pilihannya sendiri. Bekerja dengan upah rendah tidak mau diterimanya sebab tidur di rumah lebih baik daripada bekerja dengan upah kecil, pikirnya.

Dengan gusar dan sedikit memaksa, bapak itu berkata pada anaknya suatu kali, “Besok pagi jam dua kamu harus pergi jualan sayur, menggantikan Bapak di pasar.”

Si anak mengernyit, ia segera berujar, “Saya malu, Pak. Saya insinyur pertanian, mengapa harus jualan sayur di pasar?”

“Apa orang di pasar mengenal kamu dan peduli sama kamu kalau kamu seorang insinyur?”

Anaknya tertunduk diam tidak mampu memberikan jawaban.

Di pagi buta, akhirnya anak itu terpaksa menggantikan bapaknya jualan di pasar. Ketika berjualan dia merasa tidak ada yang memperhatikan dia. Tidak ada yang peduli bahwa dia seorang insinyur. Semua sibuk dengan aktivitas berjual dan membeli. Si anak pun akhirnya larut membaur.

Dengan pengetahuannya yang dimiliki sebagai insinyur pertanian, dia menjajakan sayur dan ketika menjualnya dia menerangkan tentang kandungan-kandungan gizi dan vitamin di dalam sayur.

Ketika pulang dari pasar, bapaknya bertanya, “Apa ada yang peduli sama kamu bahwa kamu seorang insinyur?”

Si anak menggeleng.

“Apa ada yang menghina kamu jualan sayur sebab kamu bergelar insinyur?”

Si anak kembali menggeleng.

“Bagus. Sekarang kamu sudah belajar, Nak. Teruskan dan abaikan rasa sombong dalam dirimu.”

Karena didukung pendidikan dan pengetahuan tentang sayur-mayur, akhirnya jualan sayurnya menjadi yang paling laku di pasar. Setahun kemudian dia telah menjadi pengusaha sayur terkenal.

Pengangguran itu pilihan bukan nasib, jadi bekerjalah semampu kita dan kita akan menjadi orang terhormat. []

sumber : http://www.islampos.com/pengangguran-itu-pilihan-bukan-nasib-75506/